Minggu, Juli 12, 2009




Memotret Objek dengan background Langit Biru



Saat melakukan pemotretan outdoor, kadang kita tergiur untuk memotret orang/objek dengan background langit biru (cerah). Biasanya kondisi ini dapat diperoleh pada siang hari (diatas jam 10). Akan tetapi, biasanya hasil yang diinginkan tidak sesuai harapan, misalnya objek dalam foto tersebut menjadi siluet atau background langitnya menjadi putih (over).

Hal ini terjadi karena lightmeter kita tertipu oleh kondisi pencahayaan yang sulit, yakni latar belakang terlalu terang (langit biru yang cerah) sedangkan objek lebih gelap dari background langit. Sehingga ketika kita melakukan metering ke langit objek tadi menjadi siluet, sedangkan bila kita melakukan metering ke objek, langit menjadi putih.

Kondisi tersebut dapat diatasi dengan penggunaan lampu flash. Tujuannya agar objek dan background terlihat jelas (tidak over ataupun siluet). Berikut ini langkah-langkah pemotretannya :

1. Aturlah angle dan komposisi foto yang akan dibuat.

2. Gunakan mode manual pada kamera.

3. Aktifkan lampu flash

4. Aturlah shuter speed yang aman agar kamera stabil (tidak goyang), biasanya saya mengatur shuter speed, 1/ISO atau 1/focal length lensa.

5. Lakukan metering ke langit, kemudian atur aperture sehingga indicator lightmeter kamera menunjukan exprosure yang under (bisa ½ ,1, atau malah 2 stop), biasanya dengan cara mengecilkan aperture, lalu atur focus.

6. Terakhir, pencet shuter kamera anda.

Teknik diatas terkadang memunculkan error berupa obyek yang difoto sedikit over. Hal ini bisa diatasi dengan mengecilkan aperture kamera dan menurunkan intensitas lampu flash. Jarak pemotretan dengan objek juga perlu diperhatikan dalam teknik ini. Jika menggunakan flash internal (GN 12-15), maka jarak pemotretan antara kamera dan obyek tidak boleh terlalu jauh (1-2 meter), sedangkan jika menggunakan flash external dengan GN yang lebih besar, maka jarak pemotretan boleh lebih jauh.

Sumber: Fotografer.net



Fotografi Digital, Membantu Memberantas Pengangguran ?

Oleh: Donny Verdian

Sadar nggak sadar, suka nggak suka, teknologi fotografi digital bisa dibilang telah ikut membantu mencetak banyak fotografer baru! Saya amat-amati sejak booming awal dekade 2000 an ini, yang namanya fotografer yang semula bukan berprofesi sebagai juru jepret mulai bermunculan.

Beberapa teman lama, dalam tempo setidaknya empat tahun ini sering memberiku kartu nama pribadinya. Dengan senyum khas mereka masing-masing, diserahkannya kartu dengan design yang mutakhir, "Nih Don! Kartu namaku!" Saya pun kaget dengan title yang ada menyertai namanya "Digital Photograper" atau Digital Imager" Wew! Saya pun manggut-manggut, setidaknya teman-teman saya yang dulu itu bekerja sebagai penjaga warnet, mahasiswa yang malas kuliah serta tukang kongkow di warung 24 jam muka rumah itu telah "mentas" telah memiliki pekerjaan sebagai fotografer lengkap dengan backpack-backpack besar mereka yang sepertinya berisi alat-alat perang D-SLR dengan beberapa lensa pendukungnya.

Lantas kenapa bisa demikian? Menurut saya, fotografi digital memicu lahirnya fotografer-fotografer baru karena sifatnya yang praktis. Bayangkan, untuk mengetahui hasil jepretan Anda tidak perlu pergi ke photo lab lalu menunggu beberapa jam untuk cuci dan cetak di sana seperti yang terjadi pada kamera analog. Semuanya serba instan, jepret... lalu beberapa detik berikutnya hasilnya sudah bisa dilihat di backscreen kamera.

Belum lagi soal begitu banyaknya hasil pemotretan yang gagal total karena sebab-sebab yang tak begitu disangka seperti misalnya rol film yang tidak mau menggulung, membuka tutup belakang kamera ketika film belum total tergulung yang mengakibatkan film terkena sinar dari luar lalu terbakar, atau kesalahan teknis-teknis yang sifatnya mendasar seperti salah hitung diafragma dan speed, misalnya.

Wah, kalau sudah begini, persoalan memotret sudah masuk ke ranah betapa pentingnya momen serta waktu. Maksudku, kalau untuk pemotretan model jelas lebih gampang, tinggal kontak si model untuk reschedule pemotretan ulang di waktu yang akan datang, habis perkara. Tapi bagaimana kalau hasil pemotretan untuk sebuah acara sunatan anak tercinta rusak karena kesalahan-kesalahan seperti kutulis di atas? Kan ya jelas ndak mungkin tho kalau anak kita lalu disunat lagi :)

Soal biaya juga menjadi soal kenapa teknologi analog banyak ditinggalkan dan membuat orang banyak belajar fotografi pada era digital. Saya ingat betul banyak teman fotografer analog dulu menggerutu karena begitu borosnya membeli rol-rolan film. Bayangkan, untuk satu rol film berisi 36 shot harganya mencapai sekitar 16 ribuan. Itu diluar ongkos cuci cetak yang semakin hari harganya pasti semakin melambung mengingat harga kertas, BBM serta efisiensi kerja yang semakin mahal harganya itu. Belum lagi kalau kita butuh memotret menggunakan slide yang memang memiliki kekayaan warna lebih menonjol itu, tak kurang dari 36 ribu kita keluarkan untuk membeli rol slide negatifnya. Dari satu rol film yang harganya 16 ribuan tadi, masih kata teman saya yang fotografer dulu itu, praktis ia butuh setidaknya 5 - 6 shot untuk melakukan bracketing (uji coba untuk mendapatkan hasil terbaik) terhadap satu obyek. Jadi dengan kata lain, dalam satu rol film, maksimal hanya akan ada 6 - 7 obyek yang sama, bukan?

Sementara para fotografer digital, keadaan adalah sebaliknya. untuk memotret, praktis mereka hanya butuh media penyimpan seperti MMC dan SD Card yang harganya kian hari kian mur-mer itu. Untuk satu sesi pemotretan pre wedding misalnya, teman saya yang lain yang adalah fotografer digital itu praktis hanya perlu membawa dua keping SD Card berukuran 1GB serta sebuah laptop. Dan kata kunci yang pada akhirnya memenangkan fotografi digital ketimbang fotografi analog, dari sisi media perekam adalah adanya sifat reusable, bahwa satu keping SD Card itu bisa dipakai berulang-ulang kali untuk menyimpan gambar-gambar yang baru.

Dari efek-efek itu lah pada akhirnya membuat manusia-manusia fotografi digital baru bisa memiliki improvisasi yang luar biasa dalam hal memotret. Manusia bisa karena biasa, atau dengan kata lain manusia bisa karena belajar. Fotografi digital, disukai ataupun tidak memberi arti lebih pada kata "belajar" itu sendiri. Ia membuat para fotografer belia tidak takut-takut lagi untuk jeprat-jepret ke sana ke sini untuk mendapatkan hasil yang paling bagus. Selama masih ada ruang di kartu media perekam seperti MMC dan SD Card ya santai saja.

Paling-paling penetrasi pembiayaan tinggal pada pengadaan lensa yang memang harus diakui masih mahal. Tapi, ah, kalau mau yang pas-pasan ya bisa juga pakai kit lens atau beli satu yang punya vocal length yang jauh seperti misalnya jenis lensa 18 - 200. Selebihnya? Biar Photoshop yang berbicara!

Itu baru soal fotonya, soal jeprat-jepretnya. Dukungan dunia digital dalam hal penyediaan media pamer (galeri foto) pun juga memberikan arti yang maksimal bagi para fotografer di ranah digital.

Coba ingat dan bayangkan, bagaimana mahalnya seorang fotografer kalau ia harus mengadakan pameran foto di gedung-gedung yang representatif. Ia harus membayar sewa gedung, kurator, pengadaan properti seperti frame, rak dan tetek bengeknya belum lagi soal konsumsi untuk pengunjung. Wew, bisa jutaan itu! Teman lama yang dari tadi saya ceritakan di sini itu pun berujar bahwa pada masanya dulu, pameran adalah hal yang paling berat tapi mutlak untuk dilakukan. Untuk itu ia terpaksa harus patungan dengan teman-temannya sesama fotografer untuk menalangi biaya pameran.

Tapi lihat sekarang! Internet dengan kekuatan konsep web 2.0 yang begitu menggejala sedikit banyak telah memberikan nafas lega bagi mereka, fotografer itu. Mereka tak perlu lagi sewa tempat serta ngurus tetek bengeknya. Cukup daftar di situs-situs jejaring sosial yang bergerak secara khusus di bidang fotografi, atau bisa pula sewa hosting dan suruh orang untuk bikin website dengan biaya dibawah hitungan lima juta rupiah, maka fotografer-fotografer itu bisa pamer hasil karyanya secara permanen. Nggak peduli ada atau tidak orang yang mau lihat dan datang, pokoknya tinggal pamer. Kalau bosan atau karena laporan statistik menyebutkan bahwa foto tersebut kurang diminati, ya tinggal dihapus tho! Habis perkara!

Itulah dunia digital! Dunia yang secara teknis sebenarnya hanya dirangkai dari dua angka biner, 0 dan 1, namun keberadaannya telah begitu banyak membius kita. Tinggal bagaimana kita menanggapi pembiusan itu sendiri. Mau terlena atau justru membuat kita semakin sadar bahwa digitalisasi itu datang menawarkan satu perubahan yang positif bagi kehidupan kita.

Sumber: Fotgrafer.net

Ipunk ifanzah






Kategori: Foto Pernikahan

Job List wajib untuk Foto Wedding
Ini daftar take foto yang harus diambil buat foto kawinan pada umumnya..
aku susun berdasarkan pengalaman. biasanya list ini aku kasih ke fotografer freelance yang suka ngebantuin kalau aku motret wedding.
kalau ada yang kurang mungkin bisa dibantu melengkapi..
salam

LIST PHOTO WAJIB UNTUK DOKUMENTASI WEDDING

SEBELUM PENGANTIN HADIR
AKAD/PEMBERKATAN/RESEPSI

1.Ruangan
Pintu Masuk
Nama Gedung/Mesjid/Gereja
Suasana Ruangan
Ruangan Keseluruhan
Suasana Tamu
Suasana Saudara2

2.Dekorasi
Pelaminan Kosong
Bunga-Bunga
Pernak-Pernik Hiasan Ruangan
Meja Penerima Tamu
Souvenir
Untuk Akad : Meja Ijab Kabul
Untuk Gereja : Lilin, Alkitab, Altar,Salib
Karangan Bunga Ucapan Selamat

3.Makanan
Susunan Makanan
Gelas berisi Minuman warna warni
Stand-Stand Makanan
PENTING : INISIAL ES
Note : Perhatikan WB & Lighting

----------------------------------------------------
MAKE UP PENGANTIN

1.Perempuan
Sebelum Di make Up
Make Up Mata, bibir dsb (per-bagian)
Ekspresi keluarga yang ada disekitar
Baju Pengantin
Alat-Alat Make Up
Penata Rias
Pengantin Selesai di make up + POSE

2.Pria
Sebelum Di make Up
Make Up Mata, bibir dsb (per-bagian)
Ekspresi keluarga yang ada disekitar
Baju Pengantin
Alat-Alat Make Up
Penata Rias
Pengantin Selesai di make up + POSE

3.Keluarga Orang Tua & Saudara-Saudara Dekat Ekspresi

Note: Ajak Pengantin bercanda,
keceriaan pengantin adalah nilai point lebih

-------------------------------------------------------------------------

AKAD NIKAH

1.Pengantin
Suasana Lokasi & dekorasi Ruangan
Mobil Pengantin Jika Ada
Pengantin Memasuki ruangan
Ekspresi Keluarga
Suasana Tamu
Ekspresi Pengantin Wanita saat bersyahadat
Ekspresi Pengantin Pria saat mengucap Ijab Kabul
Pengantin, Saksi dan Penghulu Tanda Tangani Buku nikah
Pengantin Sungkem/Sujud ke Orang Tua
Pengantin Pria Memberikan Maskawin
Pengantin Saling Memakaikan Cincin
Pengantin memperlihatkan Cincin Kawin
Photo Bersama Keluarga
Pengantin Memperlihatkan Buku nikah

2.keluarga
Pose Formil
ekspresi tangis/haru keluarga

3.Pembawa Acara/pengisi Acara
Pidato
Membawakan doa
Penghulu dan saksi
Terutama ketika tanda tangan buku nikah.

4.Tamu/Keluarga
Untuk Foto bersama - Pose Formil
Tamu Keseluruhan/berkeliling
Suasana Makan
Kumpulan teman dan kerabat.

Note : Untuk agama lain, ikuti acara secara keseluruhan secara detail
Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album

Untuk Agama Kristen/di Gereja, Perbanyak Candid
Perhatikan Lighting, WB dan Pose Bersama ( JANGAN DISTORSI )
Jangan Gunakan Speed Rendah Usahakan foto FREEZE !
Foto bersama keluarga JANGAN ADA YANG MEREM!perhatikan baik2.
Foto bersama keluarga ambil setidaknya 2 kali untuk backup!

---------------------------------------------------------------------------

LIPUTAN RESEPSI

1.Pengantin
Mobil Pengantin Jika Ada
Pengantin Memasuki ruangan
Pengantin Pidato/Menyanyi/Dsb
Pengantin Melempar Bunga
Pengantin Bersalaman dengan tamu/ Suasana
Pengantin berjalan2
Pengantin makan/minum
Pengantin berpose Mesra Di Pelaminan

2.keluarga
Pose Formil
Candid Orang Tua pihak pria/wanita

3.Pembawa Acara/pengisi Acara
M.C
Penyanyi
pembuka jalan penganten (untuk adat)
Pengiring Penganten
Panitia-Panitia
Pidato, nyanyi dan sebagainya

4.Tamu/Keluarga
Untuk Foto bersama - Pose Formil
Tamu-Tamu Menyerbu makanan/antrian makanan
Tamu-Tamu mengobrol
Kumpulan Teman dan Kerabat

Note :
Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album
Ikuti Acara Secara Keseluruhan
Perhatikan Lighting - WB -dan Pose Bersama ( JANGAN DISTORSI )
Jangan Gunakan Speed Rendah Usahakan foto FREEZE ! (terutama Lempar Bunga)
Foto bersama keluarga JANGAN ADA YANG MEREM!

----------------------------------------------------------------------------

CANDID

1.Pengantin
Ekspresi Pengantin Pria
Ekspresi Pengantin Wanita
Ekspresi bersama/mesra dsb
Ekspresi keluarga
Close Up Keluarga Inti

Note :
Ambil Foto Sebanyak-banyaknya untuk pilihan terbaik di album
Kejar Pengantin Sebisa Mungkin
Perhatikan Lighting - WB
Kejar Ekspresi Bahagia/Sedih dsb
Buat Foto dengan ART yang tinggi.

------------------------------------------------------------------------

MINI STUDIO

1.Pasangan Pengantin
Pose Sendiri-sendiri
Pose Formil
Pose Mesra
Pose Gaya/Funky

2.keluarga
Pose Formil

Note :
Harap mengarahkan gaya pengantin agar tampak ok!
Ambil Take Yang Banyak untuk back Up/pilihan terbaik di album
Perhatikan tata lampu jangan ada bayangan di background
-----------------------------------------------------------------------

VIDEO SHOOTING
Album foto merupakan storyboard dari Video dokumentasi
Kedetilan dan Kualitas Video terutama Kecerahan gambar sangat penting
Kamera Minimal MD-10000, MD-9000 pada cahaya under gambar pecah
JANGAN PERNAH BERANI2nya SHAKING APALAGI GEMPA BUMI!
JANGAN PERNAH PAKE AUTO WB. set WB manual. perubahan WB pada setting auto (�10 detik) sering mengganggu
Perhatikan posisi Lampu. Jangan Backlight.
Jangan bermain-main dengan pergerakan kamera.dokumentasi bukan video art! (kecuali pesanan khusus).
Untuk 2 Video Harap Saling memperhatikan Posisi rekannya agar editing lebih mudah!
Minta ucapan selamat dari tamu-tamu yang kelihatan akrab dengan pengantin/keluarga.
Minta Pesan dari Orang tua dua belah pihak

---------------------------------------------------------------

NOTE : List ini adalah untuk acara wedding standard.
untuk lebih detail minta rundown acara.
jika ada bentuk acara khusus list foto akan bertambah.

Salam,Ipunk Ifanzah

Sumber: Fotografer.net